Aturan Sampah dan Plastik di Bali: Bagaimana Pengangkutan Bekerja di Villa
Singkatnya: sampah di Bali tidak ditangani satu dinas kota saja. Ada tiga lapis, yaitu banjar (komunitas adat setempat), perusahaan pengangkut swasta, dan stasiun pemilahan TPS3R. Plastik sekali pakai telah dilarang di ritel dan usaha makanan sejak 1 Juli 2019 berdasarkan Peraturan Gubernur Bali No. 97 Tahun 2018 tentang pembatasan sampah plastik sekali pakai: kantong plastik, sedotan plastik, dan barang dari styrofoam. Membakar sampah di halaman tidak diperbolehkan, begitu juga membuangnya ke sungai, jurang, atau ke sawah. Bagi penyewa villa ada tiga hal yang penting: siapa yang membayar pengangkutan, ke mana kantong sampah benar-benar dibuang, dan bagaimana sampah besar ditangani.
Mengapa ini lebih penting daripada lima tahun lalu
Selama puluhan tahun sebagian besar sampah Bali selatan dibuang ke TPA Suwung, tempat pembuangan akhir di dekat Denpasar. TPA itu sudah ditutup: gubernur mengumumkan penghentian total penerimaan sampah mulai 23 Desember 2025, dan Denpasar serta Badung didorong memilah sampah di tingkat lokal melalui fasilitas TPS3R dan stasiun pengolahan modern. Akibat praktisnya sederhana: sampah tidak lagi hilang dari pandangan, sampah harus dipilah di tempat sampah itu dihasilkan.
Siapa yang mengangkut sampah dari villa
Ada tiga pengaturan, dan dalam praktiknya saling tumpang tindih.
- Banjar. Komunitas adat menjaga ketertiban di wilayahnya dan menjalankan layanan pengangkutan yang dibiayai iuran bulanan kecil per rumah atau villa. Entah pemilik atau penyewa yang membayarnya, dan kontrak sewa sebaiknya menyebutkan siapa.
- Pengangkut swasta. Di kawasan wisata seperti Canggu, Berawa, Seminyak, dan Uluwatu, perusahaan swasta mengangkut sesuai jadwal, biasanya beberapa kali seminggu, dengan biaya bulanan tetap. Di villa yang dikelola, ini biasanya termasuk layanan.
- Antar sendiri. Sebagian gang dan pekarangan mengharapkan penghuni membawa kantong sampah ke tempat sampah bersama atau titik TPS3R terdekat. Apakah staf villa atau penyewa yang melakukannya, sebaiknya dipastikan sebelum Anda pindah masuk.
Nominalnya berbeda menurut kawasan dan penyedia, jadi tidak ada angka yang berlaku umum. Sebagai gambaran untuk musim ini, perkirakan biaya bulanan yang tidak besar per villa, bukan layanan gratis. Mintalah jumlah dan frekuensi pengangkutan ditulis dalam perjanjian, bukan diserahkan pada kebiasaan setempat.
Apa yang tidak boleh dibakar atau dibuang
- Membakar sampah di pekarangan, termasuk daun dan plastik. Asap dan baunya cepat sampai ke tetangga dan banjar mengetahuinya, ini salah satu keluhan sehari-hari yang paling sering.
- Membuang ke sungai, saluran air, jurang, pantai, atau ke sawah. Warga memberi sanksi untuk itu, dan hubungan yang rusak dengan tetangga lebih mahal daripada sanksi apa pun.
- Mencampur semua ke satu kantong di pekarangan yang memilah sampah. Sampah organik, plastik, kaca, dan kertas diharapkan terpisah, kalau tidak pengangkut bisa sekadar meninggalkan kantongnya.
- Menaruh kantong di pinggir jalan di luar jadwal pengangkutan. Anjing dan monyet akan membongkarnya dalam waktu satu jam, dan tetangga akan menyalahkan siapa pun yang menaruhnya.
Larangan plastik sekali pakai dalam praktik
Menurut peraturan provinsi yang berlaku, kantong plastik sekali pakai, sedotan plastik, dan barang styrofoam tidak dipakai di ritel dan perhotelan, berlaku sejak 1 Juli 2019. Toko dan kafe sebagian besar mematuhinya: di kasir Anda akan ditawari kantong kertas atau diminta membawa kantong yang bisa dipakai ulang, dan minuman biasanya datang tanpa sedotan atau dengan sedotan kertas.
Artinya untuk kehidupan sehari-hari di villa:
- simpan dua atau tiga kantong yang bisa dipakai ulang dan satu botol air di rumah, kalau tidak setiap perjalanan ke toko menambah plastik;
- beli air minum dalam kemasan besar atau lewat layanan isi ulang, bukan dalam krat botol kecil;
- minta staf tidak memasukkan sisa makanan ke kantong umum jika villa punya kompos atau alur organik terpisah;
- bawa wadah kaca dan plastik ke titik pemilahan jika ada di dekat rumah, bukan ke tempat sampah umum.
Untuk bunyi pasal yang tepat dan amendemen sesudahnya, periksa versi peraturan yang berlaku di portal pemerintah provinsi Bali. Untuk rutinitas di tingkat gang, tanyakan kepada pengelola villa atau banjar: aturan di satu gang bisa berbeda dari gang sebelah.
Apa yang perlu ditanyakan sebelum menandatangani sewa
- Siapa yang membayar pengangkutan sampah, dan apakah itu termasuk dalam layanan.
- Ke mana kantong sampah dibawa dan pada hari apa pengangkut datang.
- Apakah villa memisahkan alur sampah, dan siapa yang merawatnya.
- Apa yang harus dilakukan dengan sampah besar: perabot lama, kasur, peralatan listrik, ban. Ini biasanya ditagih terpisah dan bukan bagian dari iuran bulanan.
- Apakah ada titik TPS3R atau tempat sampah bersama dalam jarak jalan kaki.
Intinya
Sampah di Bali diatur di tingkat komunitas dan kecamatan, bukan oleh satu dinas kota. Penyewa hanya perlu menyelesaikan tiga hal: biaya dan jadwal, titik pembuangan, dan apa yang terjadi dengan barang besar. Plastik sekali pakai dibatasi dan sebagian besar tidak ada di toko dan kafe, jadi satu kantong belanja dan satu botol di rumah menghemat rasa kesal sekaligus uang.
Katalog vila di Bali dengan harga terkini: Canggu, Seminyak, Ubud, dan area lain.
Lihat katalogTulis di Telegram

